Keluarga Sakinah Bukan Berarti Tanpa Pertengkaran

Apa yang terbayang oleh kita saat mendengar istilah keluarga sakinah? Sering kali kita menggambarkan keluarga sakinah adalah keluarga yang adem, ayem, nyaman, tenteram, tenang, damai, tidak ada konflik, tidak memiliki masalah, tidak ada pertengkaran. Gambaran seperti itu tentu saja tidak sepenuhnya benar, karena tidak pernah ada keluarga yang tidak memiliki masalah. Semua keluarga di muka bumi ini memiliki masalah, persoalan, konflik, problematika dan aneka tantangan.

Keluarga sakinah juga memiliki masalah, juga ada konflik, ada pertengkaran, ada problematika yang harus dihadapi dan diselesaikan dengan baik. Yang membedakan keluarga satu dengan keluarga lainnya tidak terletak pada ada dan tidaknya masalah atau pertengkaran. Perbedaannya terletak pada bagaimana keluarga itu menghadapi masalah dan pertengkaran, bagaimana keluarga itu menyelesaikan masalah dan mengakhirinya.

Kita semua ingat cara Allah menggambarkan orang bertaqwa, yang dikaitkan dengan perbuatan keji. Orang bertaqwa bukanlah orang yang tidak bisa melakukan kesalahan atau kekejian. Bukan orang yang tidak mungkin melakukan tindakan yang buruk, namun sikap taqwa muncul pada saat terlanjur melakukan kekejian. Sebagai manusia, semua orang memiliki peluang untuk melakukan kesalahan. Namun yang membedaka orang bertaqwa dengan yang tidak bertaqwa adalah sikap ketika terlanjur melakukan kesalahan.

“Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (QS. Ali ‘Imran (3) : 133 – 135).

Demikian pula keluarga sakinah. Beda keluarga sakinah dengan yang bukan keluarga sakinah tidak terletak pada ada tidaknya pertengkaran atau permasalahan. Namun pada sikap mereka ketika terlanjur menghadapi masalah, konflik atau pertengkaran. Keluarga sakinah pandai mengelola konflik, mudah menyelesaikan masalah, gampang mengakhiri pertengkaran. Keluarga sakinah bersikap dewasa saat menghadapi problematika kehidupan. Mereka kokoh dan kuat menghadapi badai permasalahan.

Memilih Cara Bertengkar

Karena dalam semua keluarga selalu bisa terjadi pertengkaran, maka yang perlu diketahui dan dipersiapkan adalah sikap yang tepat dan positif saat menghadapi pertengkaran suami istri. Hendaknya suami dan istri memiliki kesamaan pandangan dan kesepakatan dalam menghadapi konflik serta pertengkaran yang bisa saja datang di sepanjang kehidupan berumah tangga.

Sebuah studi telah dilakukan oleh University of Michigan, menguji “gaya bertengkar” dari 373 pasangan selama 16 tahun. Studi tersebut mengungkapkan pola pertengkaran positif yang dilakukan pasangan suami istri yang usia pernikahannya lebih dari 10 tahun, adalah menggunakan “teknk konstruktif”. Teknik konstruktif yang dimaksud adalah berbicara dengan tenang, mendengarkan, dan memasukkan humor di dalamnya. Pola ini membuat pertengkaran tidak berkembang menjadi kebencian, dendam, permusuhan dan bahkan perceraian.

Saat mengalami persoalan dengan pasangan, sikap terbaik adalah menghadapinya, bukan menjauh atau menghindar dari pasangan. “Menghadapi problem adalah cara terbaik,” ujar Kira Birditt, Ph. D., pemimpin riset tersebut. “Tapi, sangat penting untuk tidak menggunakan nada meremehkan,” lanjut Birdiff. Suami istri harus saling berskap bijak dan dewasa saat terjadi konflik dan pertengkaran, dan melakukan pertengkaran dengan teknik konstruktif.

Teknik ini mengajarkan pertengkaran yang sehat antara suami dan istri. Saat terjadi pertengkaran, hendaknya suami dan istri saling mengalah, tidak menggunakan kalimat yang menyakiti hati pasangan, menggunakan nada suara yang rendah dan saling berdiskusi secara nyaman. Kendati terjadi pertengkaran, namun kedua belah pihak mampu menjaga diri dan mengendalikan emosi, sehingga pertengkaran tidak meledak-ledak dan membahayakan keutuhan keluarga.

Untuk itu, suami dan istri harus sama-sama sepakat atas pilihan “cara bertengkar” di antara mereka. Jangan memilih cara bertengkar yang saling menyakiti, saling menyalahkan, saling melukai, saling menuduh, saling menistakan, saling merendahkan, saling menjatuhkan, dan lain sebagainya. Teknik destruktif dalam bertengkar ini hasilnya adalah luka hati yang dalam dan lama. Sulit untuk sembuh dan pulih seperti sedia kala sebelum bertengkar, karena tikaman luka yang begitu dalam dan menyakitkan. Hindari teknik destruktif dalam bertengkar.

Tidak Meninggikan Suara

Sebuah keluarga bisa bertahan sepanjang kehidupan mereka dengan penuh rasa bahagia, apabila memiliki sikap yang positif dalam menghadapi konflik. Suami dan istri sama sama sepakat memilih teknik konstruktif dalam menghadapi pertengkaran, serta mengetahui bagaimana cara bertengkar yang konstruktif tersebut. Ada sangat banyak contoh dalam kehidupan modern saat ini, salah satunya adalah pasangan Ernie Hills dan Renie Hills dari Inggris, yag sudah hidup bersama dalam ikatan pernikahan selama lebih dari 70 tahun.

Pasangan Ernie dan Renie Hills menikah di tahun 1971 di Inggris. Lebih dari 70 tahun hidup bersama dalam rumah tangga, tentu saja mereka berdua telah mengalami berbagai macam peristiwa. Namun ada yang tak pernah mereka lakukan, yaitu bertengkar ataupun adu argumen dengan nada tinggi. Pasangan ini percaya jika mereka menghadapi sesuatu dengan komunikasi yang baik dan mengutamakan bicara dari hati ke hati, tak ada yang namanya pertengkaran dalam rumah tangga.

Ernie yang kini berusia 97 tahun dan istrinya, Renie, 93 tahun, dulu sama sama bekerja di sebuah pabrik di London sejak Perang Dunia Kedua. Dan setelah menikah mereka merasa semakin dekat dan tak pernah bertengkar dengan nada tinggi. Pasangan ini mengatakan, bahwa kunci sukses pernikahan panjang adalah diskusi yang nyaman dan saling mengerti apa yang dibutuhkan pasangan. Ketika muncul bibit pertengkaran, pasangan ini akan duduk bersama dan membicarakannya tanpa perlu suara bernada tinggi.

“Aku mengatakan apa yang menjadi pandanganku dan begitupun dia, dan kami saling berdiskusi untuk menyelesaikannya. Kami menikah –dia milikku, aku miliknya— dan itulah bagaimana kami melihat ini,” ujar Renie kepada Exeter Express and Echo.

Luar biasa sikap positif mereka dalam menghadapi persoalan keluarga. Kesadaran bersama untuk tidak meninggikan suara, menahan emosi, mau duduk berdua, berdiskusi untuk mencari solusi, adalah kunci mereka mampu bertahan dalam kehidupan keluarga yang bahagia selama lebih dari 70 tahun. Kebahagiaan mereka hingga di usia tua ini sangat menginspirasi kita semua, terutama bagi keluarga muda yang masih sangat tinggi ego dirinya. Hendaknya belajar bertengkar dengan cara yang bijak, nyaman, dan tidak menyakitkan.

Jangan Berlebihan Memadang Pertengkaran

Pada dasarnya pertengkaran antara suami dan isteri itu wajar saja. Karena suami dan isteri adalah dua jiwa yang berbeda, dua pikiran, dua hati, dua pikiran, dua keinginan yang tidak sama. Maka, karena ada perbedaan dan ketidaksamaan itulah bisa memunculkan pertengkaran. Dengan demikian jangan berlebihan memandang pertengkaran, karena itu bukan pertanda ketidakharmonisan.

Yang perlu diperhatikan oleh suami dan isteri adalah jangan membesar-besarkan pertengkaran. Ketika mulai disulut pertengkaran, segera redam dengan sikap mengalah dan meminta maaf. Pendapat suami dan isteri, masing-masing bisa benar dan bisa salah. Keinginan suami dan isteri, adalah sesuatu yang sah dan wajar saja. Semua orang pasti punya keinginan, harapan, kemauan, dan sebagainya.

Jika terjadi perbedaan pendapat, perbedaan keinginan, cobalah berpikir jernih dan jangan melibatkan emosi. Dengan demikian, dialog menjadi cara mencari titik tengah dari perbedaan yang muncul antara suami dan isteri. Duduk bersama, berdiskusi, berdialog, mengobrol, dalam suasana yang nyaman dan tenang. Bukan dalam suasana tegang dan dipenuhi emosi. Bukankah semua menghendaki kebaikan?

[sumber]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
WhatsApp chat Online! Klik untuk konsultasi