Muridku, Menantuku

Ini juga solusi jitu untuk pilih-pilih menantu yang istimewa.

Di abad ke-6 ada ulama besar yang sangat ternama yang bernama: Ala’uddin Abu Bakar bin Mas’ud Al Kasani. Seorang ahli fikih hebat, terutama dalam madzhab Hanafi. Dia wafat tahun 587 H.

Salah satu karya ilmiahnya yang paling ternama (dicetak hari ini dalam 10 jilid): Badai’ Ash Shonai’ fi Tartibisy Syaroi’. Ini adalah salah satu rujukan utama untuk fikih madzhab Hanafi. Kitab ini merupakan penjelasan dari kitab gurunya Muhammad As Samarqondi yang bernama At Tuhfah fil Fiqh.

Kitab Badai’ Ash Shonai’ menyimpan kisah menarik. Sebagaimana yang dicatat dalam biografi Al Kasani,
Penulis Kitab Badai’ belajar fikih dari Muhammad bin Ahmad bin Abi Ahmad As Samarqondi. Dia telah membaca hampir keseluruhan karya-karya gurunya tersebut. Di antaranya kitab At Tuhfah fil Fiqh dan yang lainnya dari kitab-kitab Ushul. Gurunya tersebut menikahkannya dengan putrinya yang juga merupakan ahli fikih.

Disebutkan bahwa sebab pernikahannya dengan putri syekhnya adalah: putri tersebut adalah salah satu wanita paling cantik. Putri ini juga hafal kitab At Tuhfah karangan ayahnya. Putri ini telah dilamar oleh raja-raja negeri Romawi, tetapi orangtuanya menolak.

Hingga datanglah Al Kasani dan mulazamah belajar kepada orangtua putri tersebut. Al Kasani sangat serius dan menjadi ahli dalam ilmu Ushul dan Furu’. Kemudian ia mengarang kitab Badai’ Ash Shonai’ yang merupakan penjelasan dari kitab At Tuhfah. Ia tunjukkan buku itu kepada syekhnya. Alangkah senangnya sang guru. Dan dia nikahkan Al Kasani dengan putrinya. Maharnya adalah buku tersebut.

Para ahli fikih di zamannya berkata: Ia menjelaskan Tuhfahnya dan dinikahkan dengan putrinya.”
{Lihat: Al Jawahir Al Mudhiyyah fi Thobaqot Al Hanafiyyah, Abdul Qodir bin Muhammad Al Qurosyi (775 H) dan Tajut Tarojum, Qosim bin Quthlubugho (879 H)}

Muhammad As Samarqondi ahli ilmu yang dianugerahi putri cantik yang menarik hati para raja Romawi tidak merasa nyaman dengan pinangan para raja itu. Karena ia adalah ulama yang mengerti betul ukuran kebahagiaan rumah tangga bukanlah kerajaan atau kekayaan. Lamaran datang silih berganti dari para raja. Dan setiap itu pula jawaban Muhammad As Samarqondi sama: Tidak!

Kemana orangtua hari ini, yang ukuran menantunya hanyalah harta dan jabatan. Dengan mudah mereka menyerahkan putrinya kepada calon menantu hanya dengan ukuran rekening yang layak.

Bandingkan diri dengan Muhammad As Samarqondi yang tidak menyerahkan putri hasil binaannya, ke tangan para raja Romawi.

Kemana orangtua hari ini, yang menyerahkan putrinya kepada calon menantu yang tidak jelas dari mana datangnya. Tidak tahu kualitas dirinya. Tidak mengerti apakah memang layak menjadi sekadar imam dalam shalat.

Bandingkan diri dengan Muhammad As Samarqondi yang mendapatkan anugerah seorang murid luar biasa; Al Kasani. Putrinya yang juga ahli ilmu itu tak layak hidup di bawah para raja yang hanya memberi fasilitas fisik tanpa memperhatikan fasilitas hati tempat bersemayamnya kebahagiaan.

Al Kasani adalah muridnya. Muhammad As Samarqondi adalah guru yang tahu persis perkembangannya, kesholehannya dan keahliannya. Puncaknya adalah kebahagiaan tak terhingga dari seorang ahli ilmu seperti Muhammad As Samarqondi ketika buku yang ditulisnya dijelaskan dengan sangat baik oleh Al Kasani. Ini mutiara, mengapa tak diambil saja. Jangan lepaskan.

Kembali, sejarah Islam memberikan solusi kegundahan para pencari menantu berkualitas.

Mengapa jauh-jauh. Perhatikan murid-murid anda. Di antara mereka ada mutiara berkilau. Jangan abaikan. Jangan sia-siakan. Segera saja.

Murid terbaikku, siap jadi menantuku…? [pn]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat Online! Klik untuk konsultasi