Tak Cukup Hanya Cinta

Dalam beberapa tahun terakhir saya seringkali tertegun ketika membaca undangan pernikahan maupun menghadiri undangan pernikahan. Dekorasi ruangan atau undangannya dihiasi dengan foto bersama calon pengantin dalam berbagai pose. Risih memang.

Tetapi ada hal lain yang lebih menggelitik ketika membaca rangkaian kalimat yang menyertainya yang menggambarkan tentang cinta yang mereka jadikan landasan dalam membangun rumah tangga.

Terlintas kekhawatiran akan pemahaman yang dangkal bahwa cinta adalah segala-galanya untuk membangun rumah tangga. Wah! Padahal banyak komponen lain yang harus diperhatikan, dirawat dan dikembangkan.

Dari literature, pemgamatan dan pengalaman ternyata kematangan berumah tangga menjadi factor penting dalam memelihara kelanggengan berumah tangga. Hal-hal yang mendukungnya

Persepsi yang sama tentang niat berumah tangga
Pengenalan yang cukup terhadap karakter pasangan
Kesiapan diri untuk berkembang bersama-sama
Keterbukaan dalam menghadapi berbagai perubahan
Kesiapan untuk menanggung dampak perubahan bersama-sama
Hmm… ternyata banyak juga.
Persepsi yang sama

Membangun kesamaan persepsi tidak mudah. Tidak hanya pada saat taaruf (perkenalan secara mendalam) diawal pernikahan, tetapi harus dilakukan sepanjang masa pernikahan. Secara teoritis persepsi dibentuk dari pengalaman, rangsangan indra atau reaksi yang berulang. Meski mungkin ada hal-hal membekas yang sulit untuk dirubah dalam mind setting seseorang, tetapi setidaknya interaksi yang intens dalam keluarga dapat membantu penyamaan persepsi tentang keluarga yang akan dibangun.

Sejalan dengan berbagai interaksi masing-masing pasangan dengan dunia luar maka bisa jadi persepsinya mengalami pergeseran atau pengembangan.

Persepsi ini juga sangat penting terkait dengan pemahaman akan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Tugas dan tanggung jawab suami dipersepsikan secara berbeda baik oleh istri maupun suaminya. Ataupun sebaliknya. Arah yang diinginkan dalam pendidikan anak juga demikian. Dalam tataran yang lebih luas juga persepsi tentang keseimbangan hidup dalam menjalankan tugas da’wah.

Boleh jadi ada pasangan yang sudah mantap dan sama persepsinya dalam membangun keluarga. Ingin jadi keluarga sakinah, mawaddah warahmah misalnya. Tapi tentu tidak berhenti sampai di situ saja. Break downnya bagaimana? Implementasinya? Di titik inilah komunikasi yang produktif sangat membantu untuk menjembatani adanya persepsi.

Ada sedikit cerita tentang persepsi ini. Settingnya dalam sebuah keluarga muda. Sang suami yang gagah dan bersemangat kerja tiba-tiba tersentak dengan SMS istrinya yang berisi ”Abang jorok!”

Tak habis pikir kenapa sang istri tercinta berpikir seperti itu. Setelah menenangkan hati di balaslah SMS itu ,”Ada apa sayang? Abang sudah mandi, gosok gigi, sudah rapi. Kan tadi adik lihat Abang berangkat?”

Tuit…. tanda SMS berbalas

”Bukan itu. Abang menggantung pakaian banyak betul di kamar”

Rrt. Dibalas lagi

“Itu sih biasa dik. Pakaian Abang semua. Baru dipakai sekali”

Tuit…

“Tapi kan kamar jadi bau. Banyak nyamuk. Jorok ihh!”

Rrrt.

“Baju manalagi sih Dik?”

Tuit.

“Batik, Training, Baju Kerja, Baju Koko. Aku kan capek nyucinya sebanyak itu.”

Rrrt.

“Oh… kalau Batik baru dipakai hari Ahad lalu. Nanti hari Kamis malam kan ada undangan. Mau dipakai lagi.”

Tuit.

“Training?”

Rrrt.

“Wah. Baru Jum’at kemarin dipake. Sayang kan. Besok mau kerja bakti sama pak RT pulang kantor.”

Tuit…

“Baju kerja?”

Rrrt.

“Itu sih selang-seling dua hari sekali.”

Tuit..

”Baju Koko?”

Rrrt.

“Bekas dipake shalat Jum’at. Lusa ada pengajian RW mau Abang pake lagi. Masih wangi kok.”

Tuit..

”Ya udah. Maaf ya.. tadi aku nuduh Abang jorok.”

Rrrt

“Makanya jangan sembarang nuduh. Aku hemat-hemat baju biar kamu nggak banyak nyuci.”

Oo. Sepanjang itu prosesnya dan menghabiskan pulsa serta waktu. Itu baru hal sepele. Gimana yang lebih serius. Perlu usaha yang sungguh-sungguh.

Kata kuncinya: Ngobrol doong!

Pengenalan yang cukup tentang karakter pasangan

Pengenalan terhadap karakter pasangan pasti akan bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Dibantu juga dengan berbagai persoalan yang dihadapi keluarga. Kalau kedua pihak berkeras dengan karakternya yang (konon kabarnya) tidak bisa (atau tidak mau) dirubah maka yang terjadi adalah huru-hara. Secara umum mungkin kita bisa memahami karakter pasangan kita. Tapi belum tentu kita dapat menebak semua reaksinya terhadap persoalan atau peristiwa yang dihadapi.

Perbedaan itu bisa jadi karena tekanan, stimulus atau hal lain. Tetapi keterkejutan kita terhadap reaksi yang menurut kita seharusnya dapat diduga bukan berarti akhir dari segala-galanya. Bukan berarti kita sama sekali tidak mengenal dirinya. Ini adalah proses untuk lebih mengenal dirinya.

Banyak perselisihan yang disebabkan karena tuntutan sesorang yang menginginkan pasangannya mengikuti ”seperti yang ia mau”. Ingat deh…. pasangan kita manusia yang punya kehendak dan planning buat hidupnya, seperti kita juga. Yang bisa kita lakukan adalah menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing serta siap saling memperbaiki diri. Nah, kata saling menjadi catatan penting. Karena proses di dalam berumah tangga adalah proses yang timbal balik. Tidak dapat satu arah saja.

Dan untuk diketahui bersama, karakter itu tidak akan permanen dalam diri seseorang dengan skala yang sama. Kita bisa saja mengenal seseorang yang ”sangat pemarah”. Ternyata dalam beberapa tahun kemudian kadar ”kepemarahannya” sudah jauh berkurang dengan berbagai peristiwa hidup yang dialaminya. Contohnya Umar bin Khattab. Di masa jahiliyah orang mengenalnya sebagai sosok yang keras, temperamental, sangat tegas. Tetapi setelah masuk Islam ia tetap dikenal sebagai orang yang tegas tetapi sangat lembut kepada saudaranya.

Kata kuncinya: saling membuka diri, siap menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing dan siap untuk saling memperbaiki diri

Kesiapan untuk berkembang bersama-sama

Hmm….. manusia berkembang, situasi berkembang, begitu pula dengan keluarga kita. Secara fisik berkembang jumlahnya dengan bertambahnya anak-anak. Biasanya juga bobot tubuhnya bertambah he..he…he… Tetapi, apakah kemampuan berpikirnya juga bertambah? Bagaimana dengan wawasan? Ketrampilan? Dan masih banyak lagi.

Dalam mengantisipasi segala kemungkinan di masa mendatang, setiap keluarga perlu untuk senantiasa berkembang. Dan perkembangan individu dalam sebuah keluarga harus diikuti oleh individu lainnya. Mengapa? Bayangkan saja ketika seorang anak dengan pengetahuannya yang luas tentang komputer mengajak ibunya berdiskusi sedangkan sang ibu menyalakan komputer saja tidak bisa. Atau seorang istri yang mengajak suaminya berdiskusi tentang pengembangan ekonomi rumah tangga tetapi suami merasa itu bukan minatnya. Wah! Suasana di rumah bisa terasa kurang nyaman.

Keinginan untuk sama-sama berkembang dapat mendorong peningkatan wawasan anggota keluarga. Tak selalu hanya minatnya saja yang diperhatikan. Tetapi juga minat anggota keluarga lain. Proses seperti ini yang dilakukan terus menerus di keluarga dapat menjadi kebiasaan yang baik untuk melakukan eksplorasi terhadap pengembangan diri dan keluarga.

Kebersamaan dalam pengembangan minta dan potensi juga perlu diiringi dengan kepekaan terhadap hal-hal yang bisa mengganggu stabilitas keluarga. Seperti pengaruh negatif dari interaksi sosial, pergeseran pemahaman dan lainnya. Tetapi selama komunikasi di dalam keluarga berjalan baik dan setiap anggota berpegang teguh pada nilai-nilai dan aturan Islam rasanya hal itu akan dapat teratasi.

Kata Kunci: siap berkembang dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam

Keterbukaan dalam menghadapi perubahan

Tidak selamanya perubahan itu mendatangkan keburukan. Perubahan adalah sebuah proses. Ada yang berjalan dengan cepat, ada yang lambat. Rasa takut terhadap perubahan seringkali membuat orang terbelenggu. Tidak memiliki keberanian untuk melakukan pengembangan diri yang bisa jadi membawa perubahan dalam hidupnya. Tentu perubahan yang dimaksud disini adalah perubahan menuju pada kondisi yang lebih baik.

Perubahan dapat terjadi dalam tataran masyarakat, lingkungan, bahkan negara. Jangan lupa bahwa individu dan keluarga bisa mengalami perubahan. Contohnya orientasi kehidupan keluarga yang semula materialistik menjadi religius, atau perubahan tempat kerja orang tua, atau orang tua yang menjadi pejabat publik. Semua akan membawa perubahan dalam keluarga dengan berbagai implikasinya.

Perubahan ini bisa jadi diawali oleh salah seorang anggota keluarga. Bisa anak, bisa orang tua. Dialog dan pemahaman tentang perubahan yang terjadi bisa menjadi sarana untuk memahami perubahan yang ada, antisipasi terhadap efek negatifnya, dan memperoleh solusi terhadap permasalahan yang muncul.

Keluarga yang memiliki iklim dialog yang intens dan keterbukaan antar anggota keluarga akan dapat mendeteksi perubahan pada tingkat individu lebih dini. Dan tentunya proses saling mengingatkan agar perubahan yang terjadi tidak menyimpang dari ketentuan Allah menjadi sangat penting. Proses inilah yang menjadi fungsi kontrol agar arah keluarga tetap pada jalur yang benar.

Kesiapan untuk menanggung dampak dari perubahan bersama-sama

Setiap perubahan akan membawa dampak. Positif maupun negatif. Keduanya tetaplah harus diperhitungkan atau dipertimbangkan sejak awal. Setiap elemen dalam keluarga perlu menyadari bahwa mereka akan menghadapinya. Dampak yang tidak diantisipasi sebelumnya dapat menyebabkan berbagai kekagetan. Jika kekagetan-kekagetan ini disikapi dengan saling menyalahkan maka kondisinya akan menjadi berat.

Tetapi tidak semua dampak ini dapat diprediksi sebelumnya. Oleh karenanya kita perlu mempersiapkan diri terhadap berbagai dampak yang mungkin terjadi. Paling tidak secara mental kita sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan ini. Dengan kesiapan yang dibangun bersama diharapkan dapat terbangun sebuah iklim kondusif yang memelihara kebersamaan dalam proses pengembangan keluarga.

Dinamika Berkeluarga

Kesadaran bersama bahwa keluarga juga bersifat dinamis dalam menghadapi pengembangan dan perkembangan dunia adalah hal yang penting. Penting juga bagi kita untuk menyadari bahwa perkembangan dan pengembangan dalam keluarga ini targetnya adalah untuk menggapai ridho Allah bersama-sama.

Semoga Allah memandang upaya-upaya untuk membingkai perkembangan dan pengembangan keluarga kita sebagai tambahan catatan kebaikan yang akan memperberat timbangan di yaumil akhir.

Amin. Wallahu’alam bisawab. 

By Ledia Hanifa

2 thoughts on “Tak Cukup Hanya Cinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
WhatsApp chat Online! Klik untuk konsultasi